Luwu Utara SulSel // Tipikor RI.
Kecamatan Malangke kembali dilanda banjir, ratusan rumah penduduk tergenang dengan ketinggian air bervariasi hingga 1 meter disejumlah titik, Rabu 11 Desember 2024.
Hujan deras yang terjadi saat ini memicu terjadi banjir mengakibat tanggul sungai jebol, menyebabkan air sungai meluap ke pemukiman Penduduk secara khusus di Kecamatan Malangke seperti; Desa Putemata, Desa Pettalandung, Desa Patimang dan Desa Giri Kusuma.
Salah satu warga dusun Padange Desa Putemata, Hj Naga Uleng mengisahkan sudah 40 Tahun tinggal ditempat itu, namun
baru tahun ini tepatnya 12 Februari 2024 saya merasakan dampak banjir yang menggenangi pemukiman kami hingga sekarang, tanggul yang jebol tak kunjung diatasi sepertinya ada pembiaran dari pemerintah, kami dari dua dusun Padange dan dusun Pawellai desa Putemata yang paling terdampak, sekarang kedua dusun ini telah ditinggalkan penduduknya tak ada kehidupan disana.
Dari keterangan Tokoh masyarakat desa Putemata menyampaikan bahwa tahun ini penduduk dari dua dusun diwilayah desa kami, sangat merasakan dampaknya penyebab utama yang kami lihat bahwa sungai Baliase telah menyatu ke sungai Masamba, sehingga debit air gabungan kedua aliran sungai ini sangat besar, sekalipun tidak hujan/tidak banjir kedua dusun ini tetap tergenang.
Solusi untuk mengatasi masalah banjir yang meluap masuk ke pemukiman warga, kembalikan Aliran sungai Baliase ke posisi Semula, pisahkan kedua aliran sungai ini, dan Sungai Baliase harus di Normalisasi ( pengerukan ) karena terjadinya pendangkalan, sebab kemungkinkan dikemudian hari nanti, Bila banjir besar terjadi sungai Baliase akan meluap pada tempat- tempat yang rendah lagi, disamping tanggul yang jebol di tangani dengan cepat dan tepat.
Selain merendam pemukiman warga perkebunan dan lahan garapan lainnya, Banjir juga merendam akses jalan antar Desa dan termasuk jalan poros Kecamatan Malangke, ratusan warga terpaksa mengungsi meninggalkan rumahnya secara mandiri untuk mencari nafkah di daerah lain, dan sebagian mengungsi kerumah saudara dan kerabatnya.
Syamsinar selaku Kepala Desa Giri Kusuma menyampaikan kepada kepada awak media, selama terjadinya banjir yang menyebabkan tanggul sungai jebol, ini sangat meresahkan warganya karena sebagian kehilangan mata pencarian sebagai petani, dan ini sudah seringkali terjadi banjir, dari tahun-tahun sebelumnya sampai saat ini
Adapun yang kami lakukan selaku Pemerintah Desa bersama masyarakat yakni membuat tanggul kecil dan saluran air, tujuan mengantisipasi/mengurangi derasnya air meluap ke pemukiman warga jelasnya, // LIM.







